Pages

Monday, February 8, 2021

Ari Lasso Bertekad Berhenti Merokok

20 Tahun Jadi Perokok, Ari Lasso Bertekad Berhenti

Senin, 31 Mei 2010 22:41

Memperingati Hari Anti Tembakau Sedunia, Ari Lasso mengungkapkan tekadnya untuk berhenti merokok. Penyanyi solo yang dulu pernah tergabung dalam grup Dewa 19 ini memang sedang berjuang keras menghentikan kebiasaan merokoknya yang telah ia lakukan sejak 20 tahun yang lalu. Namun menghentikan kebiasaan merokok diakui Ari butuh perjuangan keras.

"Sudah 7 bulan ini pernah sukses, tapi 2 minggu terakhir ini karena sibuk meeting. Kalau ada yang merokok jadi kadang gak kuat juga," ungkapnya saat ditemui di Preskon DARE 2 DANCE, di FX Plaza, Jakarta Selatan, Minggu (30/05) malam.

Semenjak berhenti merokok, Ari mengaku nafsu makannya semakin bertambah. Hal tersebut ia imbangi dengan rajin berolah raga. Yang pasti penyanyi yang satu ini lega karena alerginya sedikit berkurang. 

"Yang aku rasain sekarang ga batuk-batuk lagi, karena saya dari dulu punya alergi," tuturnya.

Salah satu alasan mengapa Ari berhenti merokok adalah Abe, putranya. 

"Kalau saya habis makan saya cari rokok ke mana ya, ga tahunya diumpetin sama dia dan sudah dipatah-patahin," ujarnya seraya tertawa. 

"Aku juga sudah sembunyi-sembunyi ke taman kadang ketahuan sama anak, 'Papa lagi ngapain hayo'," pungkasnya.


Sumber :

https://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/20-tahun-jadi-perokok-ari-lasso-bertekad-berhenti.html

Thursday, January 28, 2021

Asap Rokok vs Virus Corona

Asap Rokok Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Jawaban Pakar

Para ahli mengatakan virus Corona kemungkinan bisa menularkan virus Corona COVID-19, meskipun tidak secara langsung. 

Bagaimana caranya?

Kepala staf medis American Lung Association, Albert Rizzo, menyebutkan bahwa droplet bisa keluar bersamaan dengan asap rokok yang dihembuskan saat merokok. Droplet itulah yang kemungkinan bisa menularkan virus Corona ke orang lain.

"Seseorang berpotensi menyebarkan virus bukan hanya saat tidak memakai masker saja. Tetapi, mereka yang perokok juga bisa menghembuskan banyak droplet ke orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga berpotensi terinfeksi virus tersebut," jelas Rizzo yang dikutip dari Fox News, Jumat (7/8/2020).

Seperti yang diketahui, virus Corona disebut bisa menyebar melalui berbagai cara. Mulai dari melalui droplet, kemungkinan penularan melalui udara di ruangan tertutup, permukaan yang terkontaminasi, hingga temuan virus Corona pada limbah manusia.

Asap rokok mengandung ratusan bahan kimia beracun, dan setidaknya 70 di antaranya bisa menyebabkan kanker. Asap rokok juga bisa mengurangi fungsi paru-paru, menyebabkan asma, penyakit jantung, kanker paru-paru, hingga stroke.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), penyakit-penyakit tersebut bisa berkomplikasi dengan infeksi virus Corona.

Salud Amerika, salah satu organisasi kesehatan yang berbasis di Texas mengatakan, meskipun asap rokok sudah hilang, asap itu akan menempel pada debu, pakaian, dinding, hingga permukaan lainnya. Hal ini bisa menjadi sumber virus Corona.

"Debu mungkin mengandung partikel aerosol atau asap yang berukuran lebih besar daripada virus Corona. Itu sebabnya munculah kemungkinan bahwa mereka bisa mengandung COVID-19," ujar tim peneliti Ilmu dan Teknologi Lingkungan.


Sumber :

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5123727/asap-rokok-bisa-tularkan-virus-corona-ini-jawaban-pakar

Monday, November 23, 2020

Asap Kendaraan vs Asap Rokok

Mana Lebih Berbahaya, Asap Kendaraan atau Asap Rokok?

dr. Nabila Viera Yovita

28 Oct 2020, 10:30 WIB


Asap rokok dan asap kendaraan sama-sama dapat merugikan kesehatan. Di antara keduanya, mana yang sebenarnya paling berbahaya? Asap kendaraan dan asap rokok adalah dua sumber polusi yang paling sering ditemukan. Keduanya sama-sama dapat mengancam kesehatan, terutama bagi orang yang tinggal di kota-kota besar.

Jika dibandingkan antara asap kendaraan dan asap rokok, mana yang paling buruk untuk kondisi kesehatan? Atau, dua-duanya sama buruknya? Yuk, cari tahu kebenarannya!


Bahaya Asap Kendaraan

Mobil, truk, dan bus memproduksi polusi udara sepanjang digunakan, termasuk yang diemisikan saat mengoperasikannya. 

Polusi udara digolongkan menjadi dua: polusi primer yang langsung diemisikan ke atmosfer; dan polusi sekunder yang merupakan hasil dari reaksi kimia antara polutan yang ada di atmosfer. Polutan utama yang diemisikan kendaraan bermesin adalah Particulate Matter (PM), Volatile Organic Compounds (VOCs), Karbon monoksida (CO), Sulfur dioksida (SO2), dan gas rumah kaca.

Zat kimia tersebut dapat menimbulkan dampak buruk berikut apabila terus-menerus masuk ke dalam tubuh:


Penyakit Paru

Particulate Matter (PM) adalah partikel halus yang besarnya satu per sepuluh diameter rambut manusia. 

Senyawa ini dapat menjadi polutan utama maupun sekunder dari hidrokarbon, nitrogen oksida maupun sulfur oksida, yang dapat menyebabkan iritasi ringan pada saluran pernapasan hingga memperberat kondisi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).


Kanker

Volatile Organic Compounds (VOCs) dapat bereaksi dengan nitrogen oksida, yang dapat memicu batuk, rasa tercekik, dan menurunkan kapasitas paru. 

Senyawa VOCs yang merupakan emisi dari mobil, truk, dan bus juga melibatkan polutan lainnya seperti benzen, asetaldehid dan 1,3-butadien yang berhubungan dengan beberapa jenis kanker.


Mengurangi kadar oksigen dalam tubuh

Karbon monoksida (CO) yang tidak berwarna dan tidak berbau dapat menjadi gas beracun yang mematikan. 

Ketika dihirup, senyawa tersebut memblokir oksigen untuk bisa sampai ke otak, jantung, dan berbagai organ vital lainnya. Akibatnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran hingga kematian.


Asma

Sulfur dioksida (SO2) yang berasal dari solar dan batubara dapat bereaksi di atmosfer dan membentuk partikel kecil. Polutan ini dapat mengancam kesehatan anak-anak dan penderita asma.


Sumber :

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3224316/mana-lebih-berbahaya-asap-kendaraan-atau-asap-rokok

Sunday, September 20, 2020

Asap Rokok Bisa Tularkan Virus Corona?

Asap Rokok Bisa Tularkan Virus Corona? Ini Jawaban Pakar

Para ahli mengatakan virus Corona kemungkinan bisa menularkan virus Corona COVID-19, meskipun tidak secara langsung. 

Bagaimana caranya?

Kepala staf medis American Lung Association, Albert Rizzo, menyebutkan bahwa droplet bisa keluar bersamaan dengan asap rokok yang dihembuskan saat merokok. Droplet itulah yang kemungkinan bisa menularkan virus Corona ke orang lain.

"Seseorang berpotensi menyebarkan virus bukan hanya saat tidak memakai masker saja. Tetapi, mereka yang perokok juga bisa menghembuskan banyak droplet ke orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga berpotensi terinfeksi virus tersebut," jelas Rizzo yang dikutip dari Fox News, Jumat

Seperti yang diketahui, virus Corona disebut bisa menyebar melalui berbagai cara. Mulai dari melalui droplet, kemungkinan penularan melalui udara di ruangan tertutup, permukaan yang terkontaminasi, hingga temuan virus Corona pada limbah manusia.

Asap rokok mengandung ratusan bahan kimia beracun, dan setidaknya 70 di antaranya bisa menyebabkan kanker. Asap rokok juga bisa mengurangi fungsi paru-paru, menyebabkan asma, penyakit jantung, kanker paru-paru, hingga stroke.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), penyakit-penyakit tersebut bisa berkomplikasi dengan infeksi virus Corona.

Salud Amerika, salah satu organisasi kesehatan yang berbasis di Texas mengatakan, meskipun asap rokok sudah hilang, asap itu akan menempel pada debu, pakaian, dinding, hingga permukaan lainnya. Hal ini bisa menjadi sumber virus Corona.

"Debu mungkin mengandung partikel aerosol atau asap yang berukuran lebih besar daripada virus Corona. Itu sebabnya munculah kemungkinan bahwa mereka bisa mengandung COVID-19," ujar tim peneliti Ilmu dan Teknologi Lingkungan.


Sumber :

https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-5123727/asap-rokok-bisa-tularkan-virus-corona-ini-jawaban-pakar

Saturday, April 18, 2020

Merokok Tidak Dapat Cegah Covid-19

Merokok Tidak Dapat Cegah Covid-19, Virus Corona Bisa Ditularkan Melalui Asap Rokok

Beberapa waktu lalu, sempat beredar artikel terkait merokok menjadi salah satu cara mencegah virus Corona (Covid-19).

Artikel tersebut juga mengutip dan menerjemahkan laman question and answer (Q&A) World Health Organization (WHO).

Dalam artikel tersebut tertulis sebagai berikut:

"Di Indonesia, selain 60% dari rokok yang kita hisap adalah pajak untuk negara, ternyata perokok tidak disukai Covid-19. Di balik semua kontroversi rokok ternyata kebiasaan merokok tersebut merupakan salah satu solusi dari WHO untuk anitisipasi Covid-19."

Artikel dengan judul "WHO: Merokok, Salah Satu Solusi Pencegahan Covid-19", yang ditayangkan pada Sabtu 7 Maret 2020, itu ternyata adalah berita hoaks.

Melansir turnbackhoax.id, informasi yang tertulis dalam artikel itu dinyatakan tidak benar.

Hal itu dikarenakan, WHO tak pernah menyebut bahwa aktivitas merokok dapat menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona (Covid-19).

Faktanya, memang benar bahwa artikel tersebut mengutip informasi yang dikeluarkan oleh WHO pada bagian Q&A.

Namun, ternyata informasi tersebut telah dihapus dan diganti oleh WHO dengan informasi yang lebih valid.

Dengan demikian, pernyataan tersebut telah mematahkan anggapan bahwa merokok dapat mencegah atau mengobati Covid-19, yang justru merokok bisa berbahaya bagi tubuh.

Terkait hal ini, merokok bukan hanya tidak dapat mencegah atau mengobati Covid-19, tetapi asap rokok justru bisa menjadi sumber penularan Covid-19.

Kabar ini sebagaimana disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi. Dia mengatakan bahwa asap rokok juga bisa menjadi sumber penularan Covid-19.

Hal itu diungkapkan Adib Khumaidi saat menjadi narasumber di acara Sapa Indonesia Pagi Kompas TV pada Senin (13/4/2020).

"Perokok ini sebenarnya dua buat diri sendiri dengan Covid ini makin membuat dia mempunyai faktor risiko untuk terkena Covid, karena dia sudah ada problem di paru-parunya karena dia seorang perokok," kata Adib, dikutip dari Tribunnews.

Adib menyebut, apabila perokok itu tak mengeluarkan droplet memang tak masalah.

"Kedua pada saat kemudian dia merokok dan itu di dalam satu ruangan selama dia tidak droplet sih enggak masalah."

Namun, jika orang tersebut merokok di suatu ruangan dan asapnya terhirup orang lain dalam suatu ruangan, maka orang lain itu berpotensi terjangkit virus corona (Covid-19).

"Kalau dalam satu ruangan tertutup sehingga asapnya bisa kemana-mana itu bisa juga menjadi sumber penularan ke orang lain," jelasnya.

Adib kembali menegaskan bahwa asap rokok memang bisa menjadi sumber penularan, terlebih dalam radius satu meter dengan orang lain.

"Bisa kalau dalam ruangan itu, jadi kalau umpanya di jarak dekat, satu meter kemudian dia menghirup asap rokok yang dihirupkan perokok yang memang dia ada positif katakanlah itu bisa juga menjadi sumber penularan," ucapnya.(*)


Sumber :
https://health.grid.id/read/352111211/merokok-tidak-dapat-cegah-covid-19-virus-corona-bisa-ditularkan-melalui-asap-rokok?page=all

Wednesday, April 15, 2020

Jawaban IDI tentang Penularan COVID-19 Melalui Asap Rokok

Penularan COVID-19 Melalui Asap Rokok, Ini Jawaban IDI

15 Apr 2020, 14:00 WIB

Dr Daeng M. Faqih, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mengatakan belum ada penelitian spesifik tentang penularan Covid-19 melalui asap rokok.

"Penularan itu melalui droplet, lalu apakah dengan asap rokok tadi bisa menularkan? Belum ada penelitian," kata dr Daeng seperti dikutip Antara, Selasa (14/4/2020).

Menurutnya, sejauh ini belum ada penelitian yang membuktikan asap rokok yang diembuskan pasien positif Covid-19 bisa menularkan virus. Namun, karena asap rokok tersebut masuk ke dalam saluran pernapasan atau tenggorokan, maka dikhawatirkan berpotensi menularkan.

Ia mengimbau masyarakat lebih berhati-hati. "Karena menghisap rokok itu sampai ke dalam tenggorokan, sangat dikhawatirkan asap yang dikeluarkan mengandung virus."

Pasien Covid-19 yang merokok lalu mengeluarkan droplet atau percikan air liur, bersin, dan batuk dapat menularkan virus kepada orang sekitarnya, imbuh dr Daeng.

"Kalau sudah sifatnya percikan maka itu bisa menulari."

Daeng menambahkan, di dalam saluran pernapasan manusia terdapat mekanisme untuk menangkap dan mengeluarkan kotoran, termasuk mikroorganisme yang masuk. Maka dari itu, perokok aktif akan lebih rentan terserang Covid-19.

Mekanisme saluran pernapasan menjadi rusak akibat kebiasaan merokok. Akibatnya, saluran pernapasan tidak bisa menyaring kotoran yang masuk.

"Jadi merokok itu merusak saluran pernapasan," pungkasnya.


Sumber :
https://www.liputan6.com/health/read/4227178/penularan-covid-19-melalui-asap-rokok-ini-jawaban-idi

Tuesday, April 7, 2020

Jangan Biarkan Rokok Merenggut Napas Kita

HTTS 2019: Jangan Biarkan Rokok Merenggut Napas Kita

Kamis, 11 Juli 2019

Saat ini Indonesia menghadapi ancaman serius akibat meningkatnya jumlah perokok, prevalensi perokok laki-laki di Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dan diprediksi lebih dari 97 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok (Riskesdas, 2013). Kecenderungan peningkatan prevalensi merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja, Riskesdas 2018 menunjukan bahwa terjadi peningkatan prevalensi merokok penduduk usia 18 tahun dari 7,2% menjadi  9,1%.

Kajian Badan Litbangkes Tahun 2015 menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari 230.000 kematian akibat konsumsi produk tembakau setiap tahunnya. Globocan 2018 menyatakan, dari total kematian akibat kanker di Indonesia, Kanker paru menempati urutan pertama penyebab kematian yaitu sebesar 12,6%. Berdasarkan data Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan 87% kasus kanker paru berhubungan dengan merokok.

Dalam berbagai riset, diketahui bahwa faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) utama yang bisa dicegah bersama adalah perilaku buruk merokok.

''Rokok merupakan faktor risiko penyakit yang memberikan kontribusi paling besar dibanding faktor risiko lainnya. Seorang perokok mempunyai risiko 2 sampai 4 kali lipat untuk terserang penyakit jantung koroner dan memiliki risiko lebih tinggi untuk terserang penyakit kanker paru dan PTM lainnya,'' ungkap Menkes Nila F. Moeloek pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kantor Kemenkes (11/7).

HTTS diperingati setiap tanggal 31 Mei. Tahun ini tema globalnya adalah Rokok dan Kesehatan Paru dengan subtema Jangan biarkan Rokok Merenggut Nafas Kita. Tema global ini dipilih  untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak konsumsi rokok terhadap kesehatan paru serta terjadinya beban penyakit yang berpengaruh terhadap index pembangunan manusia.

Kementerian Kesehatan bersama dengan Kementerian Lembaga terkait berupaya melakukan upaya pengendalian iklan dengan pembatasan iklan rokok di Internet. Sebagaimana diketahui promosi rokok di media sosial yang semakin marak dan mempengaruhi anak-anak untuk menjadi perokok pemula. Iklan rokok di internet telah melanggar Undang-Undang No.36 Tahun 2009.

Kondisi saat ini beban penyakit secara nasional terjadi transisi epidiomiologi tahun 1990 ke tahun 2017 dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Tren PTM meningkat sebesar >70%, secara nasional PTM memiliki beban DALYs paling besar dibandingkan penyakit menular dan cedera. Badan Litbangkes menunjukkan peringkat teratas beban penyakit/ DALYs di 34 Provinsi di Indonesia tahun 2017 sebagian besar disebabkan oleh PTM yaitu stroke, penyakit jantung, penyakit paru obstruksi kronik dan diabetes melitus. Hal ini sejalan dengan meningkatnya beban penyakit karena faktor risiko hipertensi, gula darah puasa, pola makan berisiko dan merokok. Lebih lanjut kita akan mendengarkan penjelasannya dari Kepala Badan Litbang.

Penyakit Tidak Menular semakin sering ditemukan di masyarakat, bahkan saat ini usia penderita PTM bergeser pada usia muda dan produktif. Akibatnya PTM merupakan salah satu tantangan besar dalam Pembangunan Kesehatan sekarang dan di masa mendatang. Sekitar 80% PTM diakibatkan oleh gaya hidup yang tidak sehat, dan sisanya disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan.

''Contoh gaya hidup tidak sehat adalah pola makan tidak sehat, seperti kurang sayur dan buah, konsumsi gula, garam, dan lemak yang berlebih serta diperberat dengan aktifitas fisik yang kurang dan kebiasaan buruk mengkonsumsi rokok dan alkohol,'' kata Menkes.

Data Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) tahun 2017, sebanyak 10.801.787 juta orang atau 5,7% peserta JKN mendapat pelayanan untuk penyakit katastropik dan menghabiskan biaya kesehatan sebesar 14,6 triliun rupiah atau 21,8% dari seluruh biaya pelayanan kesehatan dengan komposisi peringkat penyakit jantung sebesar 50,9% atau 7,4 triliun, penyakit ginjal kronik sebesar 17,7% atau 2,6 triliun rupiah.

WHO tahun 2017 menunjukkan bahwa di dunia setiap tahun terjadi kematian dini akibat PTM pada kelompok usia di 30-69 tahun sebanyak 15 juta. Sebanyak 7,2 juta  kematian tersebut diakibatkan konsumsi produk tembakau dan 70% kematian tersebut terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia. Kecenderungan peningkatan prevalensi merokok, terlihat lebih besar pada usia muda dibandingkan pada usia dewasa. Hasil pendataan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan keluarga ditemukan anggota keluarga yang merokok di rumah sebesar 55,6%, hal ini menjadi dasar upaya pengendalian konsumsi produk tembakau di Indonesia dilakukan melalui kebijakan kawasan tanpa rokok untuk melindungi masyarakat dari paparan asap rokok.


Sumber :
https://www.kemkes.go.id/article/view/19071100001/htts-2019-jangan-biarkan-rokok-merenggut-napas-kita.html

Related Posts