Pages

Monday, February 21, 2022

Bahaya Menjadi Perokok Pasif

dr. Theresia Rina Yunita

07 Feb 2022, 17:30 WIB

Dampak yang dialami perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif meski tidak menghisapnya secara langsung. Berikut penjelasan bagaimana dampak jadi perokok pasif. Perokok pasif adalah seseorang yang menghirup asap rokok dari perokok di dekatnya. Menurut WHO, sekitar 1,2 juta manusia meninggal setiap tahunnya akibat asap rokok walaupun tidak merokok.

Terdapat setidaknya 7.000 zat kimia pada asap rokok, minimal 250 di antaranya diketahui merugikan kesehatan. Partikel-partikel berbahaya di dalam rokok dapat bertahan di udara selama beberapa jam atau lebih lama.

Bukan hanya asap yang menjadi fokus bahaya, tetapi residu yang menetap pada rambut, pakaian, karpet, ataupun sofa juga memiliki risiko bahaya asap rokok bagi perokok pasif, terutama anak-anak. Bahaya rokok bagi perokok pasif berkontribusi mengakibatkan penyakit serius. Berikut beberapa dampak buruk akibat jadi perokok pasif:


1. Penyakit Paru

Paparan asap rokok dapat membahayakan kondisi paru-paru, terutama bagi mereka yang memiliki asma atau penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Kondisi paru dapat semakin memburuk, dan penderita semakin sesak atau kesulitan bernapas.

Tidak hanya bagi mereka yang sudah memiliki penyakit ini, namun perokok pasif juga dapat menderita penyakit paru walaupun awalnya sehat-sehat saja.


2. Penyakit Jantung

Perokok pasif memiliki risiko penyakit jantung dan serangan jantung. Karena, terjadi kerusakan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh asap rokok. Demi menjaga kesehatan jantung, sebaiknya hindari asap rokok di sekitar Anda.


3. Kanker

Salah satu faktor risiko kanker paru adalah perokok pasif. Selain itu, benzena yang terkandung di dalam asap rokok juga dapat meningkatkan risiko leukemia. Berdasarkan 55 studi observasi, perokok pasif ditemukan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker paru.


4. Gangguan Kesuburan

Bahaya perokok pasif lainnya adalah masalah infertilitas. Zat-zat berbahaya di dalam rokok dapat memengaruhi hormon, sehingga mengganggu kesuburan. Selain itu, asap rokok juga dapat memengaruhi kualitas sperma dan menyebabkan impotensi.


5. Kelainan Saat Hamil

Bahaya rokok bagi perokok pasif, khususnya ibu hamil, ialah gangguan pada kehamilan. Menghirup asap rokok meningkatkan risiko terjadinya kehamilan anggur atau bahkan kehamilan di luar rahim.


6. Meningkatkan Risiko Alergi pada Anak

Sejumlah penelitian telah menunjukkan, ada hubungan kuat antara perokok pasif dengan tingkat kejadian asma pada anak. Tidak hanya asma, penyakit alergi lain seperti rhinitis alergi juga diduga berkaitan, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut.


7. Berat Badan Lahir Rendah

Efek buruk akibat jadi perokok pasif pada ibu hamil selanjutnya ialah berat badan lahir rendah pada bayi. Hal ini menunjukkan betapa berbahayanya asap rokok bagi kesehatan dan perkembangan janin. Berat badan bayi yang rendah ini nantinya akan membuat bayi lebih rentan terkena berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.


8. Persalinan Prematur

Kelahiran prematur yaitu persalinan kurang bulan ketika bayi belum cukup matang untuk dilahirkan. Persalinan ini dapat berujung pada kematian bayi. Diperkirakan setiap tahun terdapat 1,2 juta kematian bayi prematur akibat asap rokok.


9. Gangguan Perkembangan Janin

Bahaya asap rokok bagi perokok pasif juga meliputi gangguan perkembangan paru, jantung, sistem pencernaan, dan saraf pusat pada bayi, serta timbulnya masalah perilaku dan pembelajaran di kemudian hari. Oleh karena itu, ibu hamil harus menghindari asap rokok ataupun residunya.


10. Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

Kondisi ini merupakan kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan asap rokok. Berdasarkan data WHO, sekitar 65.000 anak meninggal setiap tahunnya akibat menjadi perokok pasif.


11. Mudah Kena Infeksi Karena Imunitas Menurun

Risiko ini cukup mengkhawatirkan. Hampir 50 persen anak-anak rutin menghirup asap rokok, misalnya dari polusi udara atau bahkan rokok orangtua. Mereka akan memiliki kecenderungan mudah terinfeksi akibat daya tahan tubuh yang rendah. Beberapa contoh infeksinya antara lain bronkitis, pneumonia, dan infeksi telinga tengah.

Itulah berbagai bahaya perokok pasif. Sayangnya, masih banyak yang belum aware akan masalah ini, sehingga mengabaikannya. Mulailah dari diri sendiri untuk tidak merokok, mengingatkan keluarga atau kerabat agar tidak merokok apalagi di area ramai yang banyak orang utamanya anak-anak.


Sumber :

https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/2698019/bahaya-menjadi-perokok-pasif

Wednesday, January 12, 2022

Do Smoking Habit And Cigarettes Contribute To Global Warming?

Smoking is bad for your health, that’s a common sense to us, even this fact still cannot stop those smokers to give up their egos. Smoking also affects the health of people around you who are being passive smokers, but again this fact cannot tackle the habit.

Both of those two facts saying that smoking is bad for human health doesn’t tell a success story in stopping smokers for enjoying their cigarettes. But what if we add another point of view: smoking may affect the longevity of our nature, our whole earth.

Researchers have long tried to find supporting facts about how smoking is bad for not only our health but also the earth. Some findings said that the effect is too small, it is negligible. Some others found that smoking is greatly harmful for the earth.

Which one is true? Here we will try to break it down for you, so you can understand the effect of smoking cigarettes to the earth. A clue for you: both statements are true.


Smoking ‘Reduces’ Global Warming

Reading the title of this header might make you think that we just want to make a controversial content. But hard to believe, researchers found out that the activity of smoking, instead of worsening the global warming, may even prevent the heating process of the earth.

John M. Wallace, a professor at University of Washington found out that smoking is ‘good’ for the earth. “In fact, it might even counteract global warming by an equally minuscule amount, because the white particulate matter in smoke would reflect some of the sun’s energy, thereby minimizing heat,” he said.

What about the smoke produced from the burning process? Smoking produces smoke, and we know that any kind of smoke is a pollutant that may worsen the global warming. In addition, smokers can be found in every part of the world, that you may think they must have produced significant amount of pollutant.

But again, researchers found out that the trace amount of carbon dioxide and other pollutants in cigarette smoke is too small to contribute to the climate. Let alone doing direct harm to the nature like fossil fuel burning does.

Based on those facts, you might think that smoking ‘is not that bad’ for the earth, especially you, smokers. But that’s not the whole story, those findings were just based on the smoke produced by the cigarettes. Here we give you the whole story.


The Bad Habits Of Tobacco

Tobacco is the most important part of a cigarette, and we all know that tobacco trees are being planted in industrial scale for the sake of producing cigarettes. Indeed, tobacco itself is a plant, thus it may also contribute to make the world ‘greener’ by photosynthesis process it does.

However, compared to other plants, tobacco is a highly demanding plant. Tobacco absorbs six times more potassium from the soil as other plants does to grow well, and the plant does it constantly as long as it is planted.

Thus, the amount of the nutrient in the soil drains six times faster than usual, making the soil goes unsupportive for future replantation of tobacco in just several harvests. By that time, the soil becomes useless to the tobacco farmers, unless being processed.

The processing activity to ‘refresh’ the soil requires a lot of effort, time, and money. That’s why some tobacco farmers, especially those who live in undeveloped nations, simply seek out a new and fresh field to plant more tobacco. Some of them ignorantly just clear-cut forests to get the fresh field.

Moreover, the drying and curing process of tobacco for making cigarettes also require the help of fire. And guess what is the fuel of the fire? Mainly woods. Data recorded that 600 million of trees are cut and burned annually in the process of making ‘ripe’ tobacco for cigarettes. Starting to see how harmful it is to the earth?


Wrapping The Cigarettes With CO2

You think those facts are the only non-eco-friendly part of cigarettes? Those are just the beginning, after getting the ‘ripe’ tobacco, it needs further process to make ready-to-serve pack of cigarettes like you know are being sold in the stores.

The tobacco is then wrapped in cigarette papers for the smokers’ convenient. And the amount of paper spent for making cigarettes is unbelievable. Data recorded that for just wrapping cigarettes, four miles of paper is consumed hourly.

The paper of course came from trees, and losing trees means more carbon dioxide is released freely to the atmosphere. In fact, those trees could have absorbed 22 million net tons of carbon dioxide in the atmosphere.

Researchers did some calculation about the effect of cutting that much trees for cigarettes manufacturing and they found out that the damage is equivalent to burning 2.8 billion gallons of fossil fuel. This calculation excluded other sources of pollution generated from the manufacturing process.


Aftereffects Of Cigarettes

Every year, cigarette companies produce 5.5 trillion cigarettes, and 4.5 trillion of those cigarettes have nonbiodegradable filters. The fact is, cigarette buds are world’s number one source of litter all around the world. Even every five pieces of litter in the world, one of them is cigarette bud.

The buds are made of synthetic fiber named cellulose acetate, that requires more than a decade to decompose. Those cigarette buds contain chemicals which are harmful for the environment, and as they are tossed away, instead of biodegrading they release those chemicals to the soil, water, and even the air.

There are many harmful toxins that cigarette buds potentially release in this process, such as nicotine, cyanide, acetone, arsenic, even heavy metals such as barium, chromium, and lead. Researchers have scientifically proven it by conducting a study in 2011.

A single cigarette bud was put in a controlled environment to show how it would affect the organisms living in the controlled environment. They found out that leachate from the single cigarette bud could kill half the exposed fish. Imagine those creatures that not only ‘being exposed’ to it, but mistakenly swallow it. The toxins will be released inside their bodies and kill them slowly.

So, for the conclusion, the smoke itself maybe not that harmful for the nature. But the whole process of making cigarette and the waste it produces are the ones that will harm the earth, and every single creature living on it.


Sumber:

https://earthbuddies.net/smoking-contribute-global-warming/

Tuesday, September 21, 2021

Polisi Berhak Tegur Pengendara yang Merokok

Rabu, 22 September 2021 11:30 WIB


Polisi berhak menegur pengemudi kendaraan bermotor yang merokok. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo mengatakan, tindakan itu sesuai dengan Pasal 106 Undang Undang Nomor 22 Tahun 2006 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

"Bila menurut polisi keadaan merokok itu dapat mengganggu konsentrasi, maka polisi dapat menegur yang bersangkutan," ujar Sambodo di Jakarta, Rabu, 22 September 2021.

Pasal 106 berbunyi: "bahwa setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi."

Sambodo mengatakan, seperti disebutkan dalam pasal tersebut, pengemudi yang melanggar dapat dipidana kurungan tiga bulan atau denda paling banyak Rp 750 ribu," ujarnya.

Sambodo mengatakan, petugas akan melakukan penyelidikan jika dalam kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban luka atau meninggal diketahui merokok saat menyetir kendaraannya.

"Jika karena merokok menyebabkan kecelakaan, maka penegakan hukumnya merokok mengakibatkan terjadinya kecelakaan, tapi itu perlu pembuktian," kata dia.

Polda Metro Jaya saat ini tengah gencar mengkampanyekan hilangkan budaya merokok saat berkendara. Merokok saat berkendara selain membahayakan pengemudi juga bisa menyebabkan kecelakaan pengemudi lainnya yang ada di belakang kendaraan karena terkena percikan api rokok.


Sumber :

https://metro.tempo.co/read/1509008/polisi-berhak-tegur-pengendara-yang-merokok/full&view=ok

Tuesday, September 14, 2021

Meminimalisasi Risiko Bahaya Asap Rokok

Bahaya Asap Rokok, Begini Cara untuk Meminimalisasi Risikonya 

07/12/2020, 08:28 WIB 

Merokok tidak hanya berbahaya bagi yang mengisapnya, tetapi juga bagi mereka yang terpapar asapnya atau yang biasa disebut perokok pasif. Hal ini karena asap rokok mengandung berbagai zat kimia yang berbahaya untuk tubuh. 

Melansir laman cancer.org, setidaknya terdapat 70 zat berbahaya penyebab kanker dalam satu batang rokok. Di antaranya nikotin, arsenik, amonia, hidrogen sianida, karbon monoksida, nitrosamin khusus tembakau (TSNA), dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2013 mengungkapkan, setidaknya 97 juta penduduk Indonesia telah terpapar asap rokok. 

Karena tingginya tingkat paparan asap rokok tersebut, saat ini kanker paru menjadi salah satu ancaman terbesar di Indonesia. Mengacu data Globocan 2018, persentase angka kematian akibat kanker paru di Indonesia mencapai 19,3 persen. 

Penyakit ini menjadi penyebab kematian terbanyak untuk pria sebanyak 22,8 persen dan salah satu penyebab kematian utama bagi perempuan sebanyak 14,2 persen. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, tidak hanya perokok aktif yang berisiko tinggi terkena kanker. 

Perokok pasif yang terpapar asap rokok secara terus-menerus memiliki risiko 20-30 persen lebih tinggi terkena kanker paru dan 23 persen lebih berisiko terkena gangguan jantung. Lebih jauh, Riskesdas 2013 Kemenkes memperkirakan bahwa setidaknya lebih dari 26.000 pasien meninggal akibat penyakit tersebut setiap tahun. 

Dari jumlah itu, diperkirakan pula bahwa tiap delapan kematian perokok aktif karena kanker juga diikuti satu kematian perokok pasif akibat penyakit yang sama. 

Dengan banyaknya dampak buruk asap rokok tersebut, dibutuhkan kesadaran tinggi perokok aktif dan pasif untuk mengurangi paparan asap rokok. Berikut beberapa cara sederhana yang dapat diterapkan untuk meminimalisasi dampak negatif asap rokok. 


1. Batasi jumlah rokok per hari 

Perokok aktif, sebaiknya mulai mengurangi atau membatasi jumlah rokok yang dikonsumsi setiap harinya. Penelitian bertajuk “Effect of Smoking Reduction on Lung Cancer Risk” pada 2005 yang dimuat di The Journal of American Medical Association menunjukkan, perokok aktif yang mengurangi jumlah rokok dari 20 ke 10 batang per hari dapat menurunkan risiko kanker paru hingga 27 persen. 

Bahkan, risiko kanker paru bisa dipangkas hingga 90 persen apabila perokok aktif berhenti sebelum usia 45 tahun. Hingga saat ini, mengurangi atau berhenti merokok merupakan cara paling efektif untuk menghindari risiko kanker paru. 


2. Menghindari paparan asap rokok bagi perokok pasif 

Salah satu cara terbaik mengurangi risiko kanker paru bagi perokok pasif adalah sebisa mungkin menghindari paparan asap rokok, baik di rumah maupun di tempat umum. Sayangnya, masih banyak masyarakat tidak menyadari bahwa dirinya merupakan perokok pasif. 

Untuk menghindarinya, sebaiknya pilih tempat di area bebas asap rokok saat berada di tempat umum, seperti di restoran, bandara, dan kafe. Jika orang-orang terdekat adalah perokok aktif, minta mereka untuk tidak merokok di rumah atau di dalam mobil. 


3. Konsumsi lebih banyak buah dan sayur 

Studi bertajuk “Fruit and Vegetable Consumption and Risk of COPD: a Prospective Cohort Study of Men” pada 2015 yang dimuat dalam BMJ Journals mengungkapkan, konsumsi buah dan sayuran berbanding lurus dengan pengurangan risiko gangguan pernapasan pada perokok. 

Penelitian itu menemukan bahwa konsumsi satu porsi buah dan sayuran secara rutin setiap hari dapat mengurangi risiko penyakit paru kronik sebesar 8 persen bagi perokok aktif dan 4 persen bagi perokok yang telah berhenti. 


4. Rutin berolahraga 

Rutin berolahraga ternyata dapat menurunkan risiko kanker paru pada perokok aktif pria sebesar 20-50 persen dan 20-30 persen pada perokok aktif wanita, sebagaimana dijelaskan dalam penelitian berjudul “Physical Activity and Lung Cancer Prevention” pada 2010 dalam jurnal Recent Result in Cancer Research. 

Tidak hanya untuk perokok aktif, manfaat olahraga teratur juga dirasakan perokok pasif. Sebab, gerakan fisik saat berolahraga bisa meningkatkan fungsi paru, mengurangi karsinogen dalam tubuh, dan mempercepat kemampuan tubuh untuk memperbaiki DNA yang rusak di paru-paru. 


5. Konsumsi ekstrak teh hijau 

Teh hijau dikenal memiliki berbagai manfaat baik untuk tubuh. Pasalnya, daun teh hijau mengandung konsentrasi antioksidan tinggi yang disebut polifenol. Salah satu jenis polifenol dalam teh hijau yang paling bermanfaat adalah Epigallocatechin gallate (EGCG). 

Penelitian yang dilakukan oleh Kushargina, Rimbawan, dan Setiawan pada 2018 dan dimuat dalam jurnal Nutri-Sains menunjukkan bahwa kandungan antioksidan EGCG yang tinggi pada teh hijau dapat memperbaiki kerusakan sel akibat asap rokok hingga 50 persen. 

Kandungan EGCG pun bermanfaat untuk mencegah pembentukan sel kanker, menurunkan kolesterol, serta menjaga kesehatan pembuluh darah, jantung, dan otak. Bahkan, studi yang dilakukan Katholieke Universiteit Leuven, Belgia mengungkapkan, antioksidan pada EGCG memiliki kekuatan 100 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin C dan 25 kali lebih tinggi dibandingkan vitamin E dalam melindungi tubuh. 


Sumber :

https://health.kompas.com/read/2020/12/07/082800768/bahaya-asap-rokok-begini-cara-untuk-meminimalisasi-risikonya.

Wednesday, September 8, 2021

Bahaya Merokok di Dalam Mobil

Kamis, 9 September 2021 11:00 WIB

Sebagian orang memilih untuk merokok sembari mengemudi atau sekadar menjadi penumpang mobil. Masalahnya, merokok bisa menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan, baik perokok itu sendiri atau orang lain, kebersihan kabin mobil, dan keselamatan berkendara di jalan. Mengapa merokok di dalam mobil bisa mengakibatkan masalah?


Mengganggu Pengemudi dan Pengguna Jalan Lain

Bahaya merokok di dalam mobil selain menyebabkan gangguan kesehatan juga berpotensi mengganggu pengemudi maupun pengguna jalan lainnya. Saat merokok sambil mengemudi, pengemudi akan terganggu konsentrasinya karena harus memperhatikan pegangan tangan pada rokok, termasuk membuang abu rokok yang tersisa.

Belum lagi embusan asap yang dikeluarkan ketika merokok akan mengganggu pandangan di dalam mobil. Meski hanya sejenak, teralihnya perhatian dapat membahayakan keselamatan jika di depan mobil ada masalah.

Selain itu, bekas abu rokok yang dibuang keluar atau tertiup angin juga membahayakan pengguna jalan lain, apalagi kalau masih ada bara apinya. 


Meninggalkan Bau Tidak Sedap di Dalam Mobil

Asap rokok akan bertahan dan menempel di berbagai sudut kabin mobil, terutama area kokpit seperti dasbor, setir, dan panel pintu depan. Aroma tidak sedap khas nikotin bakal terus menempel dan akan sangat sulit dihilangkan sampai kapanpun.

Cobalah perhatikan atap kabin mobil, jika ada bercak kuning berarti pemiliknya gemar merokok di dalam mobil. Tidak hanya mengganggu, tapi juga membuat kabin tidak nyaman, terutama bagi anak kecil dan orang lanjut usia.


Membuat Kotor Sistem Sirkulasi AC

Jangan lupa, asap rokok mempunyai potensi masuk ke dalam sistem sirkulasi AC dan mengendap sehingga udara dari AC mobil akan bercampur dengan nikotin yang membahayakan.

Selain itu, asap rokok juga akan menempel pada filter bahkan menempel pada Evaporator AC yang dapat membuat bau tidak hilang walaupun sudah dilakukan penggantian filter kabin. Aroma tidak sedap dari bekas asap rokok akan terus ikut bersirkulasi waktu AC dinyalakan sehingga berpotensi mengganggu kesehatan.


Mobil Berpotensi Sulit untuk Dijual

Calon pemilik mobil pasti tidak ingin membeli mobil bekas yang tercium aroma rokok atau bahkan ada bercak nikotin di dalam mobil karena mengindikasikan pemilik sebelumnya perokok atau malas menjaga kebersihan mobil.

Kalaupun harus diperbaiki, butuh biaya besar untuk mengembalikan kebersihan kabin mobil dari aroma rokok. Itupun tidak ada jaminan bau khas dan menyengat tersebut dapat sepenuhnya hilang dari dalam mobil.


Solusi Menjaga Kebersihan Kabin Mobil

Tidak ada solusi lebih bijaksana selain tidak merokok di dalam mobil. Selain untuk menjaga kesehatan, upaya tersebut dapat mencegah kabin dari kontaminasi asap racun sisa rokok, termasuk abu, bara api, puntung rokok, dan noda bekas rokok yang akan membuat kabin kotor dan tidak nyaman untuk ditempati. Apalagi jika pelanggan kerap mengajak anak tercinta atau kaum lansia naik kendaraan bersama.

Meski begitu, kotoran lain tetap akan masuk ke dalam kabin mobil sehingga butuh langkah perawatan. Cara paling mudah adalah dengan membersihkan interior seminggu sekali sekaligus mencuci keseluruhan mobil. Pastikan kabin bersih dan kering sempurna sehingga tidak meninggalkan jejak kotoran dan bau tidak sedap.

Kurangi frekuensi buka-tutup kaca dan pintu mobil kalau tidak dibutuhkan untuk mencegah udara kotor masuk. Usahakan pula agar tidak makan dan minum di dalam mobil yang akan membuat kabin kotor dan meninggalkan bau tidak sedap. Hati-hati dengan kotoran yang terbawa masuk oleh alas kaki atau pakaian penumpang.

Pastikan sistem sirkulasi AC mobil dalam kondisi prima dengan memeriksa filter kabin untuk menjaga udara yang diembuskannya agar selalu bersih dan memberikan rasa nyaman.


“Banyak dampak kerugian yang akan dirasakan oleh pelanggan jika merokok di dalam mobil. Oleh karenanya, hindari merokok di dalam mobil dan jaga kondisi kabin agar selalu bersih dan rapi sehingga nyaman saat digunakan,” kata Nur Imansyah Tara, Aftersales Division Head Auto2000, Rabu, 8 September 2021.


Sumber :

https://otomotif.tempo.co/read/1503999/bahaya-merokok-di-dalam-mobil/full&view=ok

Wednesday, June 9, 2021

Paparan Nikotin Mempengaruhi Anak

Waduh, Merokok Sejak Muda Bikin Lebih Sulit Berhenti

Selasa 01 Juni 2021 17:56 WIB

Anak-anak dan remaja harus dilindungi dari kebiasaan rokok sejak dini. Sebab dampak kecanduan nikotin untuk mereka lebih kuat dibandingkan orang dewasa akibatnya jadi lebih susah berhenti.

Spesialis Penyakit Dalam dr. Pandang Tedi Adriyanto, M.Sc, Sp.PD, FINASIM dari Universitas Gadjah Mada menjelaskan, salah satu kandungan kimia yang ada pada rokok adalah nikotin yang bisa menimbulkan kecanduan merokok.

"Semakin dini mulai merokok, maka akan semakin sulit untuk berhenti. Selain itu, kecanduan rokok bisa menjadi pintu gerbang untuk mencoba narkoba jenis lainnya," kata dia seperti dikutip dari Antara, Selasa, (1/6/2021).

Bukan cuma itu, semakin muda seseorang mulai merokok, semakin besar pula risiko kerusakan organ paru-paru dan organ lain seperti pembuluh darah dan jantung.

Ia juga mengingatkan bahaya paparan nikotin terhadap tumbuh kembang anak, yakni gangguan kecerdasan dan tingkah laku hingga gangguan konsentrasi karena ada kerusakan pada korteks cerebri.

Orangtua, terang Dokter Pandang Tedi, harus menyadari kebiasaan merokok tak cuma berdampak buruk bagi diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, termasuk buah hati mereka.

Seorang anak bisa jadi perokok perokok pasif bila dikelilingi lingkungan orang-orang perokok, baik di rumah, sekolah atau tempat bermain.

"Bahkan anak dalam kandungan bisa disebut menjadi perokok pasif bila ibu yang mengandungnya merokok saat hamil," katanya.

Anak juga bisa jadi perokok tangan ketiga, yakni mereka yang menghirup racun dari asap rokok yang diembuskan perokok, kemudian menempel dan mengontaminasi benda-benda atau tubuh.

Kementerian Kesehatan mencanangkan sebanyak 5 juta orang berhenti dari kebiasaan merokok melalui serangkaian program kerja yang digaungkan pada peringatan Hati Tembakau Sedunia 2021 yang jatuh pada 31 Mei.

Prevalensi perokok pada kelompok usia anak-anak 10-18 tahun, meningkat 7,2 persen 2013 menjadi 9,1 hingga 2018.

Kebiasaan merokok menyumbang presentase angka kematian terbesar kedua di Indonesia setelah hipertensi, sebab merokok menyebabkan banyak penyakit tidak menular yang berhubungan erat dengan merokok seperti kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit paru oktsotivcoronis, stroke, serta penyakit yang berhubungan dengan kanker lainnya.

Pada 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan penggunaan tembakau membunuh lebih dari 8 juta orang setiap tahun yang terdiri atas 7 juta orang pengguna aktif tembakau, sedangkan 1,2 juta orang merupakan perokok pasif.


Sumber :

https://lifestyle.okezone.com/read/2021/06/01/481/2418572/waduh-merokok-sejak-muda-bikin-lebih-sulit-berhenti

Tuesday, June 1, 2021

Anjuran Berhenti Merokok Demi Cegah Covid-19

Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Anjuran Berhenti Merokok Demi Cegah Covid-19

Setiap tahunnya tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Momen ini bertujuan untuk mengingatkan publik tentang bahaya tembakau bagi kesehatan.

Menurut penjelasan WHO, Hari Tanpa Tembakau Sedunia ini diadakan untuk memberi informasi pada publik tentang bahaya penggunaan tembakau, praktis bisnis perusahaan tembakau, hingga apa yang harus dilakukan untuk memerangi epidemi tembakau.

Sejak tahun 1987, Hari Tanpa Tembakau Sedunia mulai diperingati untuk menarik perhatian global terhadap epidemi tembakau serta kematian dan penyakit yang dapat dicegah akibat tembakau.


Hubungan tembakau dan Covid-19

Tahun ini, bertepatan dengan pandemi Covid-19, Hari Tanpa Tembakau Sedunia, juga jadi momen untuk mengingatkan masyarakat berhenti merokok terkait dengan virus yang tengah melanda saat ini.

Menurut Dokter spesialis paru, Feni Fitriani, mengatakan jika seseorang lepas dari rokok bisa mengurangi risiko terkena virus Covid-19. Orang yang tidak merokok dikatakan bisa lebih sehat dan kekebalan tubuhnya lebih baik hingga sanggup menghadapi virus yang tengah merajalela ini.

"Ketika seseorang berhenti merokok, akan sedikit sekali kondisi mulut menyentuh tangan, sementara kita tahu bahwa tangan bisa saja membawa virus Covid-19, apalagi yang jarang cuci tangan," kata Feni, mengutip CNN Indonesia.

Ketika seseorang merokok, aktivitas enzim angiotensin-converting enzyme-2 (ACE2) pada sel tubuh menjadi meningkat berlebihan. Pada saat yang bersamaan, ACE2 bisa jadi ‘pintu masuk’ untuk Covid-19.

"Jadi berhenti merokok tak hanya baik untuk kesehatan, tapi juga untuk memutus mata rantai penularan Covid-19. Tak ada kata terlambat untuk berhenti merokok. Berhenti merokok sekarang juga!" anjurnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Pandang Tedi Adriyanto, M.Sc, Sp.PD, FINASIM, juga mengatakan bahwa merokok diketahui menjadi faktor risiko untuk berbagai infeksi saluran pernapasan, dan bisa meningkatkan tingkat keparahan penyakit saluran pernapasan.

Pandang menambahkan, ada beberapa penyakit yang diakibatkan kebiasaan merokok. 90 persen di antaranya adalah kanker paru-paru pada pria dan 70 persen pada wanita. Rokok juga menyebabkan 56-80 persen penyakit saluran pernapasan seperti bronkitis dan pneumonia, 22 persen penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah, serta 50 persen impotensi pada pria.

Menurut penjelasan Dr. Delyuzar MKed (PA), SpPA (K), merokok bisa mengurangi pergerakan bulu getar (cilia) pada saluran pernapasan, mudah terkena infeksi kronis, dan saat terkena Covid-19, gangguan pada jaringan saluran pernapasan jadi lebih berat dan rentan. Ketika seseorang merokok, pembuluh darah terganggu dan bisa terjadi penyempitan yang pada akhirnya mengganggu jantung.


Kampanye berhenti merokok

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tengah menggalakkan kampanye #BeraniBergenti pada momen Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Tujuan dari kampanye ini untuk menggerakan seluruh masyarakat Indonesia agar berhenti merokok, apapun jenisnya, termasuk rokok elektronik dan rokok dengan pemanasaran karena dinilai sama-sama bahaya untuk kesehatan.

Perlu diketahui bahwa setiap tahunnya, ada delapan juta perokok meninggal dunia akibat penyakit-penyakit yang disebabkan oleh tembakau. Perokok dikatakan memiliki risiko hingga dua kali lipat terkena strok dan empat kali libat berisiko mengidap penyakit jantung. Tak lupa, ada 20 jenis kanker yang bisa disebabkan tembakau.

Dengan berhenti merokok, Anda akan memiliki kualitas hidup lebih baik. Tak hanya untuk diri sendiri, tapi juga demi keluaga dan orang-orang di sekitar.

Pemprov DKI Jakarta membagikan tips berhenti merokok, yaitu motivasi, tahan keinginan dengan menunda, berhenti merokok total seketika, kenali waktu dan situasi paling sering ingin merokok, olahraga teratur, minta dukungan keluarga dan kerabat, serta konsultasi dengan dokter.

Untuk mencegah kecanduan nikotin, pihak Pemprov DKI membagikan metode 4M, yaitu mencari kesibukan, menahan, minum air, dan menarik napas.


Sumber :

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2021/05/31/hari-tanpa-tembakau-sedunia-anjuran-berhenti-merokok-demi-cegah-covid-19

Related Posts